Filantropi: Memoar Santri 3

Filantropi: Memoar Santri 3

Oleh: Nurul Fathonah

SRAGEN, trensains.sch.id, – Liburan paska ujian tengah semester telah usai. Aku kembali ke pesantren ini setelah seminggu berlibur di rumah. Seperti biasa, aku dan teman-teman segera melaporkan hasil wakaf yang telah diamanatkan oleh sekolah di awal liburan.

Setiap libur tiba, kami, santri SMA Trensains selalu dibekali amunisi selebaran wakaf untuk membangun sekolah berbasis pesantren ini. Aku sudah bersiap menghadap Ustadz Hakim, beliau memanggil kami satu persatu untuk melaporkan hasil wakaf secara langsung.

Di bangku pojok, Mai duduk dengan lesu.

“Kenapa Mai? Kamu sakit?” sapaku.

Mai menoleh, dia menggeleng.

“Terus? Kok diam gitu?” Aku menyeret sebuah kursi lalu duduk di sebelah Mai.

“Aku nggak dapat satu rupiah pun dari wakaf” Mai menjawab lesu.

“Lho, kenapa? Nggak ada yang mau, ya?” Aku paham rasanya ditolak ketika kita mengajukan proposal pendanaan. Kapok? Nggak tuh, kami ini bermuka tebal. Soalnya, mengajak orang kepada kebaikan pasti banyak ujiannya.

“Bukan Put, aku lupa!”

“Hah? Terus kamu liburan ngapain aja?” tanyaku tak percaya. Mai sampai lupa akan tugas wajib itu.

“Aku ke tempat nenekku di kampung. Satu bundel kertas wakaf itu aku tinggal di kamar. Kira-kira Ustadz marah nggak ya?” Mai terlihat khawatir.

“Hm, kayaknya nggak deh, asal, kamu mau bilang jujur sama Ustadz.” Aku mencoba memberi semangat. Mai mengucapkan terima kasih atas saranku barusan.

Tak lama, namaku dipanggil, aku segera menuju meja Ustadz.

*****

Siang harinya setelah sholat Zuhur, aku melihat Mei di gazebo depan. Ternyata ada orang tuanya datang.

Aku yang sudah kenal dengan ibu Mai segera menghampiri mereka. Kuucapkan salam dan mencium tangan ibu Mai.

Ternyata, ayah dan ibu Mai datang hari ini untuk menyusulkan uang wakaf yang tertinggal. Rupanya, tanpa sepengetahuan Mai, ibunya membawa selebaran wakaf pondok untuk ditawarkan ke teman-teman pengajiannya. Alhamdulillah, banyak yang tertarik. Mereka baru tahu, ternyata ada yang namanya wakaf tunai. Mulai 100.000 rupiah, seseorang sudah bisa berwakaf.

Mai kembali sumringah, dia lega karena kewajibannya terlaksana, meski pun dibantu oleh ibunya.

“Aku ingat, kemarin Ustadz Hakim pesan, kalau kita tidak boleh menyia-nyiakan amanat ini.” Mai memegang selembar kertas wakaf.

“Kertas ini dibuat oleh uang umat, selembar saja harus dipertanggungjawabkan. Lain kali aku akan lebih amanah, untung Ustadz tidak marah.” Mai tersenyum lagi.

“Ya udah, cepetan disetor uangnya ke Ustadz Hakim, nanti kadung dijajani lagi!” Kali ini aku menggoda Mai.

“Duuh, bisa dipentung ibu nanti aku!” Kami tertawa bersama. Lalu, kami berdua menuju rumah Ustadz Hakim untuk menyerahkan uang wakaf yang terkumpul.

*****

Aku memandang langit di atas bangunan megah Trensains sore ini. Udara mulai sejuk setelah panas sesiangan. Siapa mengira, tempat ini, lima tahun yang lalu adalah kebun tebu?

Berkat kesadaran masyarakat akan pentingnya bahu membahu membangun pendidikan berbasis filantropi, sekolah ini berwujud. Total dana yang sudah habis untuk pembangunan sampai sekarang adalah mencapai delapan milyar rupiah.

Atas ijin Allah, semuanya terjadi. Padahal, tidak ada satu rupiah pun yang dimiliki oleh sekolah ini pada awalnya. Namun, Allah menggerakkan hati para muhsinin untuk mendermakan harta mereka ke sini. Baik zakat, sedekah atau wakaf.

Para walisantri juga telah mempercayai anak-anak mereka untuk belajar di sini. Tanpa mereka, sekolah ini tidak akan berkembang pesat. Kepercayaan dan loyalitas yang saling menguatkan, membuat Trensains semakin maju dan terus membangun.

Terakhir kali, terkumpul dana untuk pembelian satu unit mobil untuk operasional sekolah dan pesantren. Sekali lagi, kesyukuran tiada hingga kepada Allah. Begitu pula kepada setiap santri dan walisantri yang berjuang bersama. Juga kepada para jamaah pengajian di beberapa masjid di kota Sragen. Semoga apa yang mereka sumbangkan, akan selalu mengalir pahala jariyahnya, amin.

Setelah puas menikmati angin sore, aku turun dari lantai dua. Mai sudah menungguku di mushola, masjid darurat kami. Ya, kami belum punya masjid. Semoga saja, tahun depan kami dapat membebaskan tanah lagi untuk membangun masjid. Tak lupa, setelah selesai sholat fardhu, kami semua berdoa agar pesantren ini selalu diberi keberkahan, dan dimudahkan pembangunannya, amiin.

Zakat itu kewajiban
Sedekah menyempurnakan
Wakaf abadikan kebaikan

Sragen, 27 Maret 2019

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *