Menjadi Nadzir Wakaf

MENJADI NADZIR WAKAF
Oleh: Hakim Zanky

Instrumen ekonomi Islam ada tiga: zakat, infak, dan wakaf. Zakat dikeluarkan 2,5% -10%, adapun infak dan wakaf tak terbatas.

Zakat hukumnya wajib karena rukun Islam. Sedangkan infak dan wakaf hukumnya sunnah.

Ketika seorang muslim menunaikan zakatnya 2,5%-10% maka harta yang melekat masih 97,5%-90%. Artinya potensi harta di luar zakat belum tersentuh. Disinilah wakaf menjadi sangat potensial dan bisa menjadi solusi problem keumatan.

Model wakaf kontemporer yang paling sukses di dunia Islam saat ini adalah Al-Azhar Mesir. Wakaf menopang Al-Azhar selama 1000 tahun lebih sampai hari ini. Ada 500 ribu pelajar asing yg belajar di Al-Azhar dengan gratis. Mereka berasal dari 120-an negara. Negara Sudan misalnya berjumlah 20 ribu pelajar. Termasuk 3 ribuan mahasiswa Indonesia. Semuanya dibiayai dari wakaf.

Termasuk wakaf Haromain di Makkah dan Madinah bisa menjadi rujukan model wakaf kontemporer.

Di Indonesia model wakaf lembaga pendidikan seperti Gontor layak menjadi kiblat. Sejak didirikan oleh Trimurti 1926 dan resmi diwakafkan kepada umat 1958 kini gontor telah berkembang. Bahkan diikuti pondok-pondok alumninya. Termasuk pondok Tazakka di Batang yang baru berusia 8 tahun layak dijadikan contoh model wakaf.

Di Eropa lembaga pendidikan dan keagamaan seperti Harvard dan Vatikan konon mengkopy paste sistem wakaf milik Islam.

Bagaimana dengan Trensains…??
Trensains (pesantren sains) yang merupakan proyek pertama di Indonesia tengah berupaya ke arah itu. Bercita-cita seperti Al-Azhar yang mandiri, kokoh, dan tahan lama.

Diresmikan 1 Muharram 1435, Trensains sempat digadang-gadang akan menjadi proyeknya PP Muhammadiyah karena ide Trensains dianggap Tajdid Muhammadiyah abad ke-2 nya. Namun tidak pernah terealiasasi. Trensains qonaah menjadi proyek PDM Sragen sampai saat ini.

Tiga tahun berjalan pasca peresmian, tepatnya 14 Mei 2017 saya mengikuti Pelatihan Ziswaf Internasional di pondok modern Tazakka Batang. Sebagai narasumber utamanya adalah Dr. Musthofa Dasuki dari Al-Azhar Mesir (guru saya) dan Kiai Anang Rikza Masyhadi (senior saya di PCIM). Efek pelatihan itu benar-benar nyetrum…

Sejak tahun itu Trensains resmi mengoprasikan KL Lazismu Trensains dan mulai merintis wakaf. Bahkan ditahun yang sama pergi ke tanah suci dengan misi ganda yakni: umroh dan mengamati model wakaf Haromain dari dekat.

Kini Trensains berusia 5 tahun. Berapa asetnya. Jika dikalkulasi yang kasat mata: tanah 1.7 ha, bangunan 5.7 M, serta aset lainnya.

Perjalanan masih panjang untuk mewujudkan Trensains minimalnya berdiri kokoh dilahan 4 ha dengan biaya bangunan minimal 45 Milyar.

Kini, tahun 2019 tenaga Lazismu Trensains kembali direcharge dengan kegiatan serupa. Kali ini naik level yakni menjadi ‘Nadzir Wakaf’ level internasional 🤠.

Diantara point penting dari Nadzir wakaf, Nadzir itu hakekatnya membantu mengalirkan pahala kepada wakif. Maka, wakif itu ya berwakaf. Clear.

Jangan sampai, wakif hanya memindahkan masalah dari dirinya kepada nadzir. Karena nadzir bukan pegadaian.

Terimakasih untuk ilmu dan pengalamannya: Dr. Mustafa Dasuki Kasbah, Dr. Imam Kamal, Lc., M.Hum, Syahrudin M.Sc.Fin, KH. Anang Rikza Masyhadi, MA.. semoga menjadi wakaf antum semua yang terus mengalir pahalanya. Amin.

Bismillah Grengg 🚕..💨

Perjalanan Ponorogo-Sragen
Jam 20.30 wib

 

Momen
Rabu, 29 Syawal 1440
3 Juli 2019

Salam Trensains 👆🏽
proyek peradaban
www.trensains.sch.id

 

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *