Membincang Trensains bersama Komunitas Akademisi Internasional

Membincang Trensains bersama Komunitas Akademisi Internasional

TRENSAINS.SCH.ID, Sragen – Sebagian orang menyebut Trensains itu SMA, sebagian lagi menyebut Trensains itu pesantren, lantas mana yang benar? Benar semua.

Lho?

Sebab Trensains terdaftar di Dikbud sebagai SMA, sebab anak-anak Trensains mukim ngaji dan belajar bahasa Arab dengan nahwu-sharaf nya sebagaimana anak pesantren lainnya.

Cuma kalau sampeyan tanya saya misalkan untuk ditulis sebagai identitas saya saat menjadi narasumber saya akan katakan Trensains sebagai pesantren sains dan Trensains tidak dapat disamakan dengan lembaga mana pun.

Artinya tidak dapat disamakan dengan SMA mana pun, tidak dapat disamakan dengan pesantren mana pun.

Trensains itu benar-benar barang atau produk baru, bukan SMA umumnya, bukan pesantren salaf, bukan pesantren modern, Trensains itu produk baru.

Prof. Agus Purwanto Pendiri TrensainsNanti, entah berapa tahun lagi Trensains diadopsi oleh lembaga-lembaga lain seperti hanya beberapa puluh tahun lalu banyak pihak membangun pesantren modern dengan mengadopsi Gontor sebagai pesantren modern pertama.

Jelas ya? Jika belum jelas juga tak apa, tidak harus sekarang. Yang jelas, Sabtu 10 Juli 2021 kemarin Trensains banyak disebut dalam momen Memorial Webinar on Contributions of Drs. Mohammad Siddik, MA yang diselenggarakan oleh International of Islamic Thought, IIIT chapter South East and East Asia.

Hadir tokoh-tokoh atau dedengkot IIIT seperti Hisham al-Talib, Ahmad Totonji, Anwar Ibrahim, Datuk Osman Bakar, Omar Kasule, Kamal Hasan juga yang dari Indonesia Jusuf Kala, Prof Muljad Kertanegara, Prof Amani Lubis, Habib Chirzin dan banyak lagi yang lainnya.

Di sinilah Trensains disebut-sebut khususnya oleh mantan Rektor International Islamic University of Malaysia IIUM Prof Kamal Hasan.

Prof Kamal Hasan mungkin orang luar yang paling dekat dengan Allahu Yarham Drs. Mohammad Siddik MA, mengingat beliau dulu pernah tinggal sekian lama di Jakarta, tepatnya di rumah almarhum. Selanjutnya, setiap ke Jakarta hampir selalu menginap di rumah almarhum.

Tahun 2012, Prof Kamal Hasan mengundangku ke International Institute of Islamic Thought and Civilization, ISTAC IIUM selama satu bulan sebagai visiting fellow. Di Kuala Lumpur ini saya diminta presentasi di berbagai forum dan Prof Kamal Hasan menyebutku sebagai manusia baru yang meski juga berlatar masjid Salman berbeda bahkan dari Bang Imad alias Dr. Imaduddin Abdurrahim yang terkenal di Malaysia.

Pada acara serupa yakni takziyah online bagi Drs. Mohammad Siddik MA yang diselenggarakan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia DDII Pusat sepekan lalu, Prof Kamal Hasan terkejut dan terkesan atas kesaksianku bagi almarhum. Ternyata aku membangun Trensains, pesantren yang mendialektikakan sains dan Islam, yang dana DP lahannya sebesar Rp. 100.000.000,- merupakan infak dari almarhum.

Nah, dalam presentasinya kemudian Prof Kamal Hasan banyak menyebut Trensains dan namaku. Trensains adalah lembaga yang diimpikan IIIT, tetapi justru diwujudkan oleh orang yang sembilan tahun lalu pernah di-underestime.

Upacara Bendera di SMA Trensains Muhammadiyah Sragen

Ceritanya seperti ini, sore menjelang malam saat saya harus presentasi di depan semua Guru Besar Pemikiran Islam ISTAC IIUM yang jumlahnya sekitar 20-an dan dihadiri 40-an mahasiswa S2 dan S3, saya dijemput untuk makan malam، tepatnya makan sebelum Maghrib.

Di perjalanan, sambil nyetir Prof Kamal Hasan berkata,”Doktor Agus, nanti presentasinya 45 menit saja, kecuali peserta antusias bolehlah hingga satu jam”. Degh, hatiku tersinggung, batinku berkata “Adoh-adoh Suroboyo-Kuala Lumpur cuma ngomong 45 menit”. Kemudian aku berkata, “Baik, tidak apa, mungkin nanti bahasa yang menjadi ganjalan saya. Saya harus jelaskan persoalan agama filsafat Kalam dan sains dalam bahasa Inggris”, begitu jawabku.

Akhirnya waktu tiba, jam 20.00 WM acara dimulai dan ternyata dipimpin dan dimoderatori sendiri oleh Prof Kamal Hasan. Setelah sedikit pengantar dan membuka acara yang dihadiri sekitar 60-an GB dan mahasiswa pascasarjana dalam bidang Pemikiran Islam, saya pun dipersilahkan presentasi.

Seperti biasa demam panggung dulu beberapa menit, tetapi setelah itu lancar jaya dan sempat memperhatikan peserta yang menarik perhatian yakni mahasiswi cantik dari China dan Iran. Dan tidak terasa presentasi berlangsung hampir dua jam tanpa diinterupsi oleh Prof Kamal Hasan sebagai moderator yang sorenya hanya memberiku waktu 45 menit atau maksimal satu jam. Usai presentasi, berlanjut pertanyaan dan komentar bahkan seusai acara termasuk mahasiswi asal Iran dan China.

Thus, Trensains telah dan sedang dibincang secara internasional.

Trensains,
Generasi Pecinta al-Quran dan Sains.

Surabaya,
Ahad 11 Juli 2021
Penggagas Trensains

Note: Tulisan asli dari Gus Pur dengan sedikit revisi redaksional oleh tim. 

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *