Implementasi Model Pembelajaran Problem Based Learning untuk Meningkatkan Kemampuan Kognitif Siswa Kelas XI MIPA 3 SMA Trensains Muhammadiyah Sragen pada Materi Teori Kinetik Gas Tahun Ajaran 2020/2021

Implementasi Model Pembelajaran Problem Based Learning untuk Meningkatkan Kemampuan Kognitif Siswa Kelas XI MIPA 3 SMA Trensains Muhammadiyah Sragen pada Materi Teori Kinetik Gas Tahun Ajaran 2020/2021

 

Heppyana, Iriwi L. Sinon, Sinariya Djalimun

Pendidikan Fisika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

PPG Dalam Jabatan Universitas Papua, Indonesia

heppyfis2010@gmail.com

 

 

ABSTRAK

Heppyana. 6649769670130052. IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOGNITIF SISWA  KELAS XI MIPA 3 SMA TRENSAINS MUHAMMADIYAH SRAGEN PADA MATERI TEORI KINETIK GAS TAHUN AJARAN 2020/2021. Laporan Ilmiah, Sragen : SMA Trensains Muhamadiyah Sragen, November 2020. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana meningkatkan: kemampuan kognitif siswa kelas XI MIPA 3 SMA Trensains Muhammadiyah Sragen Tahun Ajaran 2020/2021 pada materi Teori Kinetik Gas menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) dengan model Kurt Lewin yang dilaksanakan dalam tiga siklus. Setiap siklus diawali dengan tahap persiapan dan dilanjutkan dengan tahap pelaksanaan siklus yang terdiri atas perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI MIPA 3 SMA Trensains Muhammadiyah Sragen Tahun Ajaran 2020/2021 sebanyak 24 siswa dengan penelitian dikhususkan pada materi Teori Kinetik Gas. Data diperoleh melalui lembar observasi dan kajian dokumen. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik kualitatif didukung data kuantitatif. Berdasarkan analisis data dan pembahasan dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: Pada pembelajaran siklus I dengan sub materi Hukum Gas Ideal melalui platform LMS Schoology dengan metode diskusi, tanya jawab dan penugasan percobaan hukum Charles diperoleh hasil kemampuan kognitif siswa yang meningkat dari pra siklus. Terdapat 13 siswa atau 54,17% siswa yang nilainya tuntas di atas KKM (75). Hal ini mengalami peningkatan dari pra siklus dengan materi Fluida Dinamis yang hanya 9 siswa atau 37,5% tuntas di atas KKM. Meskipun demikian, hasil dari siklus I belum mencapai target keberhasilan. Oleh karena itu, dilakukan tindakan selanjutnya yaitu siklus II. Pada pembelajaran siklus II dengan sub materi Persamaan Gas Ideal dengan metode tambahan yaitu demonstrasi simulasi Phet Colorado, diperoleh hasil kemampuan kognitif siswa yaitu 18 siswa atau 75% siswa tuntas. Dilihat dari target ketercapaian, pembelajaran pada siklus II ini telah mencapai target yang ditetapkan. Namun, untuk melengkapi tugas penelitian selama Praktik Pengalaman Lapangan maka perlu dilanjutkan kegiatan penelitian pada siklus III. Hasil pembelajaran pada siklus III, kemampuan kognitif siswa mencapai 20 siswa atau 83,33% siswa tuntas di atas KKM. Berdasarkan hasil penelitan yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan melalui penerapan model pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan kemampuan kognitif siswa kelas XI MIPA 3 SMA Trensains Muhammadiyah Sragen Tahun Ajaran 2020/2021 pada materi Teori Kinetik Gas.

Kata kunci: problem based learning, kognitif, aktivitas

 

 

PENDAHULUAN

Fisika merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang gejala alam yang tidak hidup atau materi dalam lingkup ruang dan waktu. Dewasa ini banyak siswa yang menganggap fisika itu pelajaran yang sulit, dan banyak rumus yang harus dihapalkan. Hal tersebut menyebabkan siswa sulit menyelesaikan soal-soal fisika dengan tepat. Nurul (2010) berpendapat bahwa saat ini pembelajaran Fisika mengalami tantangan tersendiri untuk dapat menjadi pelajaran yang mampu memberikan pemahaman kepada siswa tentang alam sekitar, tetapi tetap dilakukan melalui proses belajar yang aktif dan menyenangkan. Hal ini dapat tercapai jika tersedia dan cukup memadainya sarana serta prasarana belajar yang menjadi media pembelajaran. Sebagian besar siswa, merasa kesulitan mempelajari materi pembelajaran Fisika. Kejenuhan dan kemalasan mempelajari Fisika adalah ujung masalah ini. Sedangkan pangkal masalah ini, salah satunya adalah karena kurang mampunya guru membelajarkan Fisika di sekolah secara menarik.

Berdasarkan hasil kajian dokumen yang dilakukan di kelas XI MIPA 3 SMA Trensains Muhammadiyah Sragen pada 12 Oktober 2020, dapat dikemukakan bahwa hasil kemampuan kognitif siswa kelas XI MIPA 3 masih rendah. Hal ini ditunjukkan dengan hasil belajar siswa kelas XI MIPA 3 dari 24 siswa, ada 9 siswa atau 37,5% yang memenuhi kriteria tuntas pada materi Fluida Dinamis dengan kriteria ketuntasan minimum (KKM) 75.

Berdasarkan hasil pengamatan terhadap pembelajaran yang dilakukan di kelas online daring XI MIPA 3 terlihat bahwa motivasi belajar siswa masih rendah. Hal ini dapat terlihat dari hanya sedikit siswa yang mau berani bertanya tentang materi yang belum dipahami dan hampir seluruh siswa hanya menerima begitu saja informasi dari guru pada kolom komentar. Setelah melakukan instropeksi diri terhadap pembelajaran yang selama online daring ini, guru masih menggunakan model pembelajaran satu arah yaitu guru yang cenderung aktif sehingga interaksi antar guru dan siswa masih kurang sehingga dalam kegiatan pembelajaran siswa cenderung pasif. Dengan model pembelajaran tersebut siswa akan lebih cepat merasa bosan dengan proses pembelajaran.

Berdasarkan uraian beberapa permasalahan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa penyebab rendahnya prestasi belajar siswa kelas XI MIPA 3 adalah peran model pembelajaran yang dilakukan guru selama pembelajaran online daring belum maksimal, sehingga siswa tidak ikut terlibat aktif dalam proses belajar mengajar. Dengan demikian, maka diperlukan peran guru menggunakan model pembelajaran yang dapat melibatkan siswa secara langsung.

Salah satu model pembelajaran yang dapat melibatkan siswa secara langsung dalam pembelajaran adalah model pembelajaran problem based learning. Dalam Ward (2005) menjelaskan model pembelajaran problem based learning merupakan suatu model pembelajaran yang melibatkan siswa untuk memecahkan suatu masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah sehingga siswa dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut.

Sebagai tindak lanjut untuk mengatasi permasalahan yang terjadi di kelas XI MIPA 3 maka perlu dilakukan penelitian tindakan (Action Research) yang berorientasi pada perbaikan hasil belajar siswa melalui sebuah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research (CAR). Penelitian tindakan kelas dengan model pembelajaran problem based learning sebagaimana dilakukan oleh Cut Eka Parasamya (2017) dalam jurnalnya model pembelajaran problem based learning (PBL) dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI IPA di SMA Negeri 1 Darussalam pada siklus I sampai III yaitu sebesar 69%, 81% dan 94% pada materi Usaha dan Energi. Sandi setiawan (2016) dalam penelitiannya juga menggunakan model problem based learning dengan menggunakan simulasi macromedia flash sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa SMK Negeri Limboro Kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat dengan ketuntasan belajar 69,44% pada siklus I dan 91,67% pada siklus II. Selain itu, Oktaviani Ningsih (2010) dalam penelitiannya  hasil belajar peserta didik pada siklus II mengalami peningkatan sebesar 76% dibandingkan pada siklus I dengan menerapkan model problem based learning pada konsep optik geometri di SMA Negeri 83 Jakarta Utara.

Materi fisika yang dirasa sulit dalam mengaktifkan siswa yaitu pada materi teori kinetik gas. Hal ini dikarenakan materi ini banyak terdapat persamaan- persamaan yang biasanya dalam pembelajaran lebih cepat dilakukan jika pembelajaran satu arah oleh guru. Sehingga perlu model pembelajaran berbasis masalah yang perlu diterapkan untuk pembelajaran pada materi ini untuk mengaktifkan siswa dalam proses belajar mengajar.

Penelitian ini berupaya untuk menganalisis masalah yang ada dengan menemukan solusi meningkatkan kemampuan kognitif siswa, dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning, yang diharapkan dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang materi yang diajarkan. Oleh karena itu, penulis menyusun penelitian tindakan kelas dengan judul “IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOGNITIF SISWA KELAS XI MIPA 3 SMA TRENSAINS MUHAMMADIYAH SRAGEN PADA MATERI TEORI KINETIK GAS TAHUN AJARAN 2020/2021”.

LANDASAN TEORI

Suhardjono dalam Suharsimi et al (2009: 58) mendefinisikan penelitian tindakan kelas adalah penelitian tindakan yang dilakukan dengan tujuan  memperbaiki mutu praktik pembelajaran di kelasnya. Penelitian tindakan kelas merupakan suatu upaya untuk mencermati kegiatan belajar sekelompok peserta didik dengan memberikan suatu treatment yang sengaja dimunculkan dengan tujuan memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran. Wijaya Kusuma dan Dedi Dwitagama (2010:27) menyampaikan beberapa model PTK antara lain model Kurt Lewin dan model pengembangan yaitu Kemmis & McTaggart serta model lainnya, tetapi pada dasarnya ada empat tahapan penelitian tindakan kelas, yaitu perencanaan (planning), pelaksanaan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting).

Setiap model mengarahkan untuk mendesain pembelajaran yang dapat membantu siswa untuk mencapai berbagai tujuan. Trianto (2007:2) mengungkapkan model pembelajaran sebagai kerangka konseptual yang menggambarkan prosedur sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar, dan berfungsi sebagai pedoman perencanaan pengajaran bagi para guru dalam melaksanakan aktivitas pembelajaran. Hosnan (2014) mengemukakan bahwa PBL adalah pembelajaran yang menggunakan masalah nyata (autentik), tidak terstruktur, dan bersifat terbuka sebagai konteks bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan menyelesaikan masalah dan berpikir kritis serta membangun pengetahuan baru. Hal senada disampaikan oleh Santyasa (2008) yang memandang PBL sebagai suatu pendekatan pembelajaran dengan memunculkan masalah-masalah berbentuk ill- structured atau open ended melalui stimulus kepada siswa.

Berhasil atau tidaknya proses belajar mengajar dapat dilihat dari hasil belajarnya. Pengukuran hasil belajar ranah kognitif dilakukan dengan tes tertulis. Menurut revisi taksonomi Bloom kemampuan kognitif dapat diklasifikasikan menjadi enam tingkatan dalam Sanjaya (2008:125-126) yaitu: mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta.

METODE PENELITIAN

Penelitian dilakukan di SMA Trensains Muhammadiyah Sragen kelas XI MIPA 3 tahun ajaran 2020/2021. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober-November 2020. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI MIPA 3 SMA Trensains Muhammadiyah Sragen tahun ajaran 2020/2021.

Penelitian ini menggunakan metode PTK dengan model Kurt Lewin yang terdiri dari empat komponen, yaitu: perencanaan (planning), tindakan (acting), pengamatan (observing) dan refleksi (reflecting). Hubungan keempat komponen itu dipandang sebagai satu siklus. Prosedur penelitian tindakan kelas dirinci mulai dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan evaluasi hingga analisis dan refleksi yang bersifat daur ulang atau siklus tindakan. Data-data dari hasil penelitian di lapangan diolah dan dianalisis secara deskriptif kualitatif. Teknik analisis deskriptif kualitatif didukung dengan data kuantitatif hasil kajian dokumen.

HASIL TINDAKAN DAN PEMBAHASAN

Pelaksanaan pembelajaran dilaksanakan pada Kamis, 22 Oktober 2020 secara daring melalui LMS Schoology, sedangkan untuk evaluasi dilaksanakan melalui trensains.net dan penilaian googleform. Dari 24 siswa kelas XI MIPA 3 semua hadir dalam pembelajaran daring di LMS Schoology. Kehadiran siswa dapat dilihat melalui jawaban sapaan pada kolom komentar di pendahuluan LMS Schoology. Di pendahuluan siswa diberikan apersepsi berupa gambar pompa piston, siswa terlihat aktif pada kolom komentar. Kemudian di kegiatan inti, siswa melakukan literasi tentang sifat-sifat gas ideal. Selanjutnya, siswa diberikan video pembelajaran sebagai orientasi masalah aktual tentang hukum Boyle. Siswa mulai antusias mengikuti pembelajaran dan terlihat muncul banyak pertanyaan. Hal ini membuat guru sedikit kesusahan dalam membalas chat satu per satu. Dari video pembelajaran yang diberikan, siswa mampu menunjukkan hubungan antara tekanan dan volume jika sistem dalam keadaan tertutup. Dengan menggunakan video pembelajaran ini guru dan siswa saling berdiskusi dalam menemukan konsep hukum Boyle.

Tahap berikutnya adalah memberikan penugasan percobaan hukum Charles di rumah masing-masing dengan bantuan LKPD yang prosedural dan sudah disertai permasalahan dan keterangan variabel bebas dan terikat. Selanjutnya, literasi tentang hukum Gay-Lussac. LKPD dikumpulkan siswa setelah pembelajaran selesai melalui submission di bagian pengumpulan laporan pada LMS Schoology. Kemudian di penutup siswa menyimpulkan hasil pembelajaran pada pertemuan tersebut. Akan tetapi, siswa belum melakukan refleksi di akhir pembelajaran. Siswa melakukan evaluasi setelah pembelajaran selesai yaitu mengerjakan soal tes CBT melalui tes evaluasi di trensains.net dan penilaian sikap serta keterampilan melalui googleform.

Berdasarkan hasil evaluasi tes soal kognitif yang diberikan melalui trensains.net yang terdiri dari 5 soal didapatkan ketuntasan belajar siswa yang teridentifikasi secara langsung melalui sistem. Ketuntasan belajar siswa dalam pembelajaran Fisika khususnya pada materi Teori Kinetik Gas dengan sub materi yaitu Hukum Gas Ideal merupakan faktor yang menentukan penelitian ini berhasil. Ketuntasan belajar dalam penelitian ini dilihat dari kemampuan kognitif siswa. Untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa dari kemampuan kognitif siswa. Untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa dilakukan tes kognitif yang dilaksanakan pada Kamis, 22 Oktober 2020. Soal kognitif ini terdiri dari 5 soal pilihan ganda yang isinya mencakup kompetensi dasar yang mendiskripsikan konsep dari sub materi Hukum Gas Ideal yang diberikan melalui CBT trensains.net dan penilaian sikap serta keterampilan melalui googleform. Siswa mengerjakan secara online.

Pada siklus I persentase siswa yang mencapai ketuntasan belajar adalah 54,17% dari 24 siswa kelas XI MIPA 3 dan semua siswa mengikuti tes siklus I. Sedangkan siswa yang belum tuntas sebanyak 45,83% dengan nilai batas minimum ketuntasan di kelas XI MIPA 3 SMA Trensains Muhammadiyah Sragen untuk pelajaran Fisika adalah 75.

Gambar 4.1. Persentase Ketercapaian Kemampuan Kognitif Pra Siklus dan Siklus I

Apabila dilihat dari rata-rata kelas, rata-rata kelas XI MIPA 3 siklus I adalah 65. Nilai tersebut belum memenuhi KKM dimana nilainya 75. Namun apabila dibandingkan dengan target penelitian, hasil kognitif siklus I masih berada di bawah target penelitian, yakni 75% siswa harus tuntas KKM. Maka perlu adanya tindakan berikutnya agar target ketuntasan kelas XI MIPA 3 mencapai target yang telah ditentukan.

Pelaksanaan tindakan pada siklus II ini diawali dengan penjelasan tentang proses pembelajaran yang akan dilakukan. Pembelajaran dilaksanakan sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran yang tercantum dalam RPP yang telah disusun guru. Berdasarkan RPP yang telah disusun, pelaksanaan pembelajaran materi Teori Kinetik Gas pada sub materi Persamaan Gas Ideal di kelas XI MIPA 3 yang dilakukan secara daring melalui LMS Schoology membutuhkan 1 kali pertemuan untuk proses pembelajaran yaitu 2 x 45 menit.

Pada tahap siklus II, pada bagian pendahuluan melalui googlemeet terdapat 21 siswa yang hadir. Ada 2 siswa yang ijin sakit dan hanya bisa mengikuti pembelajaran melalui Schoology, sedangkan 1 siswa terkendala jaringan untuk pendahuluan melalui googlemeet. Kemudian pada pendahuluan disampaikan apersepsi dan tujuan pembelajaran. Setelah itu, bagian kegiatan inti melalui LMS Schoology di awal pembelajaran terdapat diskusi tanya jawab tentang penggabungan Hukum Gas Ideal menjadi persamaan umum gas ideal. Setelah itu, siswa mendownload LKPD dan menyelesaikan melalui diskusi bersama dan dengan video pembelajaran demonstrasi simulasi Phet Colorado materi Persamaan Gas Ideal. Siswa terlihat antusias saat diskusi dan tanya jawab. Akan tetapi, saat mengerjakan LKPD siswa terlihat lebih fokus mengerjakan LKPD. Setelah melakukan wawancara dengan beberapa peserta didik, aktivitas LKPD terlalu banyak sehingga butuh waktu agak lama untuk mengerjakannya. Hal ini juga menjadi faktor pengumpulan LKPD dari peserta didik banyak yang terlambat. Selain itu, terlihat dari cara siswa memberi komentar pada chat Schoology yang agak lama. Meskipun demikian, diskusi tetap berjalan secara baik. Di akhir pembelajaran, perwakilan dari siswa sudah menyimpulkan pembelajaran pada hari tersebut dan melakukan refleksi pembelajaran. Siswa menyelesaikan LKPD dan mengunggah pada submission LMS Schoology setelah pembelajaran selesai. Selain itu, siswa melakukan penilaian evaluasi tes kognitif melalui trensains.net dan  penilaian sikap serta keterampilan pada googleform.

Untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa pada siklus II dilakukan tes kognitif yang terdiri dari 5 soal pilihan ganda yang diberikan melalui trensains.net sehingga siswa mengerjakan secara online. Pada siklus II persentase siswa yang mencapai ketuntasan belajar adalah 75% dari seluruh siswa kelas XI MIPA 3 yang mengikuti tes siklus II yaitu 24 siswa. Sedangkan siswa yang belum tuntas sebanyak 25% dari batas minimum ketuntasan di kelas XI MIPA 3 SMA Trensains Muhammadiyah Sragen untuk pelajaran Fisika.Kemampuan kognitif merupakan salah satu parameter ketercapaian proses pembelajaran. Pada penelitian ini setiap akhir tindakan tiap siklus diberikan tes kemampuan kognitif. Hasil dari tes kemampuan kognitif siswa dari pra siklus, siklus I dan siklus II ditunjukkan diagram batang berikut:

Gambar 4.2. Hasil Kemampuan Kognitif Siswa Kelas XI MIPA 3 pada Pra Siklus, Siklus I dan Siklus II

Apabila dibandingkan dengan target penelitian, perolehan hasil kognitif pada siklus II sudah memenuhi target yang direncanakan dalam penelitian ini. Dari yang ditargetkan sebesar 75% dari jumlah siswa telah tercapai pada siklus II dengan ketercapaian 75%. Namun demikian, untuk melengkapi tugas dari penelitian PPL. Penelitian ini harus dilanjutkan pada tahap siklus III.

Pelaksanaan pada siklus III ini menggunakan teknik pemanfaatan platform yang sama dengan siklus I yaitu menggunakan LMS Schoology saja tanpa menggunakan video converence. Hal ini dikarenakan pernah dicobakan penggunaan video converence (googlemeet) pada pendahuluan di siklus II, dari 24 siswa yang dapat aktif on kamera hanya beberapa siswa saja sedangkan yang lain off kamera untuk menjaga jaringan tetap stabil. Meskipun diskusi dan tanya jawab hanya melalui LMS Schoology saja, keaktifan peserta didik dalam berdiskusi masih bisa dikondisikan. Siklus III dengan langkah diskusi yang lebih terarah dari guru, siswa lebih mudah dikondisikan dalam diskusi bersama sehingga guru tidak kesulitan dalam membalas masing-masing chat siswa dibandingkan dengan siklus I dan II.

Absensi kehadiran peserta didik dengan menjawab soal pretest yang diberikan pada pendahuluan di LMS Schoology. Format absensi kehadiran dengan menuliskan No Absen_Jawaban soal pretest pada kolom komentar di pendahuluan. Meskipun ada yang terlambat, tetapi semua peserta didik hadir dalam pembelajaran. Penyampaian kompetensi dan tujuan pembelajaran melalui video yang ditampilkan pada pendahuluan di LMS Schoology. Hal ini bertujuan agar peserta didik lebih tertarik untuk melihat, mendengar dan membaca.

Pada kegiatan inti, siklus III ini berbeda dengan siklus I dan II. Saat siklus I menggunakan video pembelajaran yang menjadi bahan diskusi dilanjutkan penugasan percobaan hukum Charles, sedangkan siklus II menggunakan literasi bahan ajar dan video demonstrasi simulasi Phet Colorado yang menjadi bahan diskusi. Pada siklus III ini hanya menggunakan media gambar yang ditampilkan pada wall assignment “kegiatan inti” pada LMS Schoology. Meskipun demikian, ternyata peserta didik mampu menganalisis kasus pada gambar tersebut ke dalam penerapan hukum gas ideal. Adanya pengulangan tampilan bahan diskusi yaitu di LKPD dan di wall kegiatan inti mungkin menjadi faktor fokusnya peserta didik dalam mengikuti diskusi

Berdasarkan tes evaluasi kognitif siswa yang melalui trensains.net sudah disetting waktu pengerjaan dari pukul 10.30–24.00 pada hari Jum’at 13 November 2020. Berdasarkan hasil evaluasi tes kognitif dari 5 soal pilihan ganda yang diberikan terdapat 20 siswa yang telah tuntas di atas KKM (75) atau 83,33% dari 24 siswa kelas XI MIPA 3. Selain itu, hasil yang memuaskan dengan 15 siswa mendapat nilai 100.

Berdasarkan hasil pembelajaran dan perbaikan pada siklus III ternyata dapat mengalami peningkatak lagi untuk kemampuan kognitif siswa. Meskipun pada tahap ini merupakan tahap pemenuhan tugas dari Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) dari program Pendidikan Profesi Guru (PPG). Hasil dari tes kemampuan kognitif siswa dari pra siklus, siklus I, siklus II dan siklus III ditunjukkan diagram batang berikut:

Gambar 4.3. Hasil Kemampuan Kognitif Siswa Kelas XI MIPA 3 pada Pra Siklus, Siklus I, Siklus II dan Siklus III

Pada pra siklus, siswa yang tuntas sebanyak 9 anak (37,5%), siklus I sebanyak 13 anak (54,17%), siklus II sebanyak 18 anak (75%) dan siklus III sebanyak 20 anak (83,33%). Apabila dilihat dari data tersebut, pembelajaran menggunakan model pembelajaran problem based learning yang dilaksanakan di kelas XI MIPA 3 pada materi Teori Kinetik Gas bisa dikatakan dapat meningkatkan kemampuan kognitif siswa.

 

KESIMPULAN

Pada pembelajaran siklus I dengan sub materi Hukum Gas Ideal melalui platform LMS Schoology dengan metode diskusi, tanya jawab dan penugasan percobaan hukum Charles diperoleh hasil kemampuan kognitif siswa yang meningkat dari pra siklus. Terdapat 13 siswa atau 54,17% siswa yang nilainya tuntas di atas KKM (75). Hal ini mengalami peningkatan dari pra siklus dengan materi Fluida Dinamis yang hanya 9 siswa atau 37,5% tuntas di atas KKM. Meskipun demikian, hasil dari siklus I belum mencapai target keberhasilan. Oleh karena itu, dilakukan tindakan selanjutnya yaitu siklus II. Pada pembelajaran siklus II dengan sub materi Persamaan Gas Ideal dengan metode tambahan yaitu demonstrasi simulasi Phet Colorado, diperoleh hasil kemampuan kognitif siswa yaitu 18 siswa atau 75% siswa tuntas. Dilihat dari target ketercapaian, pembelajaran pada siklus II ini telah mencapai target yang ditetapkan. Namun, untuk melengkapi tugas penelitian selama Praktik Pengalaman Lapangan maka perlu dilanjutkan kegiatan penelitian pada siklus III. Hasil pembelajaran pada siklus III, kemampuan kognitif siswa mencapai 20 siswa atau 83,33% siswa tuntas di atas KKM. Berdasarkan hasil penelitan yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan melalui penerapan model pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan kemampuan kognitif siswa kelas XI MIPA 3 SMA Trensains Muhammadiyah Sragen Tahun Ajaran 2020/2021 pada materi Teori Kinetik Gas.

 

DAFTAR PUSTAKA

Hosnan, M. (2014). Pendekatan Saintifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran Abad 21. Bogor: Ghalia Indonesia.

Nurul, F.S. (2010). Penggunaan Model Quantum Teaching Melalui Metode Permainan Dan Simulasi Pada Pembelajaran Fisika Pokok Bahasan Gerak Lurus Ditinjau Dari Keaktifan Siswa. Diakses dari http://eprints.uns.ac.id/3054/1/130270508201001371.pdf

Oktaviani Ningsih, 2010. “Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Fisika pada Konsep Optik Geometri. Diakses pada 12 Oktober 2020 dari http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/1134/1/98319- OKTAVIA%20NINGSIH-FITK.pdf

Sandi Setiawan, 2016. “Penerapan Model Problem Based Learning Menggunakan Simulasi Macromedia Flash untuk Meningkatkan Hasil BELAJAR Fisika Siswa SMK Negeri Limboro Kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat” http://repositori.uin- alauddin.ac.id/2777/1/SANDI%20SETIAWAN.pdf

Sanjaya, W. (2008). Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group

Santyasa, I Wayan. 2006. Pembelajaran inovatif: model kolaboratif, basis proyek dan orientasi NOS. Makalah. Semarapura: Universitas Pendidikan Ganesha.

Suharsimi Arikunto, Suhardjono, & Supardi. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : PT Bumi Aksara.

Trianto. (2007). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta: Kencana Prenada Media Group

Wijaya Kusumah dan Dedi Dwitagama. (2010). Mengenal Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : PT. Indeks

 

 

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *